Rutukan Jiwa Mawar Bunga

Rutukan Jiwa Mawar Bunga
Oleh : Panji Gozali
         
Ah, sudah lama sepertinya aku menunggu keadaan seperti ini. Srimuni, ayo jangan kamu sia – siakan kesempatan ‘apik’-mu. Aku tau, kamu sudah lama menunggu kesempatan seperti ini. Untuk seorang gadis muda belia, kamu punya modal! Nasib kamu sudah lumayan sebetulnya, dari babu kemudian sekarang menjadi selir kepala jawatan. Apalagi?               
 
“Tapi.. aku ragu, kamu tidak usah menggangguku!”

Srimuni.. apa yang membuatmu ragu? Kamu musti berjuang demi masa depanmu. Asalkan kau tetap bernafsu, juga susumu tetap baik bentuknya. Kerna itulah yang selalu menarik perhatian seorang pejabat. Seperti apa kataku tadi, kamu punya mo….

   “Mo.. mo.. modal apa? Dasar gendeng, kirik!”

Lihatlah pada cermin, paras cantikmu modal utama. Nomor dua lekuk indah tubuhmu dan nomor tiga itu sifat licikmu. Kamu tidak perlu munafik. Kamu butuh uang, semua orang butuh uang. Bahkan untuk orang yang sudah duduk dikursi ataspun masih melakukan hal kotor demi tambahan uang. Tidakkah kau tau itu, Srimuni? Berbalik dan lihatlah pada cermin, tidakkah kau melihat bayangan mawar bunga? Itulah dirimu! Sedap dipandang namun tidak bisa dinikmati. Aku tahu, kamu hanya mementingkan materi. Birahimu dapat kamu kesampingkan, tetapi nalurimu harus tetap berjalan. Nikahi orang tua itu, dan kuras hartanya! Kerna hanya dengan menikah dengannyalah, orang tua itu mau mengeluarkan seluruh uangnya. “Tidak! Biarpun dalam berdusta, aku lebih baik menjadi wanita penghibur lelaki hidung papan catur! Memang aku menginginkan materi dalam kehidupanku. Tapi pernikahan bukan perkara materi. Nikah itu hal yang sakral, suci! Nikah itu hanya satu kali, dan untuk selamanya.” Apakah kamu akan selalu bersifat…

   “Cukup sudah! Aku ngantuk, lebih baik kita tidur.”

-         Keesokan harinya, dengan kamar yang klasik dan suasana yang tenang.

   “Whoam.. Akhirnya,”

Hei akhirnya kamu bangun,

   “Hah! Pergi sana, tolong jangan ganggu aku la…”

Ngomongmu ngawur tak jadi soal, asalkan kamu teguh pendirian dengan apa yang sebetulnya kamu mau. Ayolah kita kembali kepokok bahasan kita yang rancu kemarin.
   
“Cukup, apa tidak puas kamu mencampuri urusanku?”

Ah omongmu semakin ngawur, lupa ya? Hehe aku.. aku adalah..    


              “Iya aku tau! Tapi… arrgghhh”

          Yasudah – sudah, omong – omong tumben sekali kamu mandi dan berdandan seperti ini? Oh iya, memang betul apa kataku. Tubuhmu selalu menggoda, dengan gaun yang kamu pakai itu betul – betul menunjukkan bentuk bagus dari susumu dan pinggang seksi mu. Srimuni, kenapa terdiam? Hei.. Aku tahu, aku hanyalah ‘Nafsu’ jahat yang tidak dapat berhenti dan terus mengoceh, berkeliling dan bertamasya dalam pikiranmu. Tak tahukah kamu bahwa selama ini kamu selalu mengikuti apa mauku, ketimbang mengikuti apa yang seharusnya mau kamu lakukan? Hehe tenang, bukan hanya kamu Srimuni, bahkan hampir seluruh umat manusia mengikuti apa kehendakku dari pada apa yang seharusnya mereka lakukan.

Jakarta 2 Februari 2016  

x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar